jump to navigation

Cicak, Buaya Wanna Be..? Sunday, November 1 , 2009

Posted by refanidea in Journalism, Politics, jangan pernah sakit hati.
Tags: , , , , ,
3 comments

Akhir-akhir ini perseteruan KPK – Polri semakin seru. Netter atau mereka yang aktif di dunia maya membentuk afiliasi Gerakan 1.000.000 Facebookers Dukung Chandra Hamzah dan Bibit Samad Riyanto. Yang ketika tulisan ini diturunkan pendukungnya telah berjumlah 223.230.

Gerakan 1.000.000 Facebookers Dukung Chandra Hamzah & Bibit Samad Riyanto

Ahmad Arif, wartawan Kompas menulis Ketika Tembok Berbicara dengan ilustrasi foto karya Agus Susanto menjadi sebuah kolom apik yang sayang bila tidak disimak.

3554680p

Dengan bedil dan peluru di tangan, siapa pun bisa Tuan penjarakan. Sungguh pun alasannya terkadang membingungkan; ”Mereka terlalu banyak bicara pada media.” Namun, bisakah Tuan meruntuhkan seluruh tembok kota? Tembok-tembok yang kini telah dilukisi dengan cat warna merah dan putih itu. (more…)

Firasat Surya Paloh Friday, August 1 , 2008

Posted by refanidea in Journalism, jangan pernah sakit hati.
Tags: , ,
6 comments

Saya iseng ke Youtube, cari-cari perkara. Eh, ternyata ada juga perkara yang menarik .. Klik play aja bu, pak ..

Pemirsa demikian Headline News siang ini ,dan setelah pesan-pesan berikut kita akan bergabung kembali bersama rekan Pesi Widakuswara di studio Metromini, maksud kami Metro TV, Bursa Efek Jakarta. Tetaplah bersama kami.

Hehe.. Pasti jenggot Surya Paloh ngerasa ketarik saat mbaknya bilang Metromini.  Itu namanya firasat Om Surya..

Well-Informed Citizen Friday, June 6 , 2008

Posted by refanidea in Journalism, Nature.
Tags: , ,
3 comments

Beberapa waktu yang lalu saya mengikuti seminar bertema, independensi media di tengah pesta demokrasi pemilihan kepala daerah, di sebuah perguruan tinggi negeri di Semarang.

Banyak hal menarik dari presentasi yang disampaikan para panelis. Salah satunya yang masih terekam dengan baik oleh memori saya adalah kalimat, well-informed citizen. Penjelasan dari salah seorang panelis, jika masyarakat suatu negara mendapatkan informasi dengan baik, maka ekonomi di negara itu juga akan baik.

Ketika hal ini saya sampaikan pada seorang kawan sambil kongkow santai, ngopi, dan merokok di angkringan kemarin malam, dia langsung menyatakan sepakat dengan kalimat panelis di seminar itu. Dia langsung memberikan contoh sederhana betapa kalimat panelis itu memang masuk akal. Suatu hari teman saya itu melihat tayangan di televisi mengenai meningkatnya harga-harga kebutuhan pokok. Dan Faisal Basri dalam tayangan di televisi itu mengatakan bahwa sebenarnya kita rakyat Indonesia dapat memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri tanpa perlu mengimpor dari negara lain. Hal ini memang sejak lama menjadi pertanyaan kita semua, mengapa negeri kita yang katanya subur, gemah ripah loh jinawi, hingga diibaratkan jika tongkat, kayu, dan batu diletakkan begitu saja bisa jadi tanaman, ternyata memunculkan kenyataan lain: belum dapat mencukupi kebutuhan pangan mandiri.

(more…)