Aku duduk sila di atas hamparan pasir di tepi pantai. Memetik gitar, menyanyikan lagu-lagu Slank, Mr. Big, dan Bonjovi. Jam 1 pagi. Sementara teman-teman asik mengobrol, bercanda melingkari api unggun jauh di sebelah sana. Aku sedang ingin menikmati udara pantai sendirian sambil menatap ombak yang bergulung-gulung menepi. Seiring purnama malam ini, air laut meninggi hingga membasahi hingga mata kaki.
Langit benar-benar bersih. Ribuan bintang berkelip-kelip. Kadang-kadang terlihat olehku cahaya panjang bergerak perlahan menjauh dari kumpulannya. Bintang jatuh.
Tiba-tiba seorang lelaki berjalan menuju arahku. Ia berhenti lalu jongkok hanya beberapa langkah di sebelah kananku. Bercelana pendek dan kaos kerah ia asik menghisap rokoknya memandangi ombak. Merasa agak kaku kalau tidak berbasa-basi akhirnya aku menghentikan bermain gitar dan menyapanya.
“Sendirian mas?”
Ia berpaling ke arahku, “eh, iya.. masnya sendirian juga?”
“Nggak, tuh temen-temen saya yang pada ngelilingin api unggun.”
Lelaki itu menengok ke arah teman-temanku, “oh, itu yang disana?”
“Iya mas.”
“Temen-temen kuliah ya?”
“Iya.”
“Eh, kita ngobrol jauh bener ya. Saya kesitu boleh ya?”
“Oh, silakan. Saya nggak nggigit kok.”
“Hahaha..” ia tertawa sambil berdiri lalu duduk mendekatiku, “kuliah tahun ke berapa?”
“Sekarang masuk tahun kedua.”
“Oh.. Asli jogja?”
“Saya gede dan tumbuh di Jogja. Anggap aja orang Jogja lah mas.”
“Saya sering ke Jogja lho.. tapi baru tahu kalau ada pantai ini.”
“Oh gitu. Emang mas dari mana?”
“Saya luar kota,” jawabnya.
“Suka ke pantai ya mas?”
“Suka banget.. Saya dari Bali mas.” (more…)

