jump to navigation

Bahasa Kita yang Cidera

Berbahasa dengan baik. Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia sudah lama saya tinggalkan -tidak diperoleh secara intensif seperti saat di bangku sekolah. Ketika lulus dari SMA maka pelajaran itu seperti menguap saja dari otak. Lima tahun belajar di Fakultas Ekonomi, mata kuliah tentang bahasa Indonesia hanya saya terima dua SKS yang saya tempuh dengan waktu enam bulan. Dengan asumsi setiap minggu menerima mata kuliah tersebut selama 2 jam, maka dalam enam bulan kami hanya menerima 50 jam pelajaran bahasa Indonesia. Dan perlu dicatat juga bahwa 50 jam itu adalah diterima pada semester awal dari total masa kuliah wajar mahasiswa FE selama empat tahun.

Praktis selepas SMA ketrampilan berbahasa Indonesia saya tidak mengalami kemajuan kalau tidak ingin dibilang mundur. Sejujurnya hal ini cukup menjadi kendala terutama pada saat menyusun skripsi S-1. Menulis kalimat dan menyusun paragraf menjadi kaku dan tidak luwes. Mungkin lebih pandai siswa SD saat mereka diberi tugas mengarang tentang pengalaman libur panjang mereka saat akhir tahun ajaran.

Saat ini saya mengasah dan belajar lagi tentang bahasa Indonesia. Di saat bahasa SMS, e-mail, blog, dan messenger kita mulai penuh dengan singkatan, di saat sinetron dan bahasa pergaulan kita terlalu sering berkiblat pada dialek Betawi, di saat individu-individu bangsa ini mulai sering mencampuradukkan bahasa Indonesia dengan bahasa asing untuk menimbulkan kesan tertentu, saya ingin mundur sebentar dan mengevaluasi diri sendiri. Sejauh mana saya telah mencederai bahasa Indonesia yang disepakati menjadi bahasa nasional sejak 28 Oktober 1928?

Harusnya kita bangga karena punya bahasa nasional yang murni dan baku. Malaysia sudah sejak lama iri pada kita karena bahasa mereka mawut -berantakan tidak jelas campuran antara Malaysia, Melayu dan Inggris.

Mengakui bahwa pengetahuan EYD saya sudah melemah, maka saya belum berani melakukan kritik mengenai hal itu. Tapi beberapa jam merenung, saya mendapatkan beberapa kekeliruan istilah yang selama ini secara sadar kita lakukan. Hal ini sebenarnya cukup mencederai bahasa Indonesia, seakan bahasa nasional kita miskin istilah. Silahkan mengoreksi atau menambahkan beberapa kekeliruan istilah di bawah ini:

  1. Pompa air: Sanyo

  2. Air mineral dalam kemasan : Aqua

  3. Body Lotion: Hand Body (Tubuh dan tangan..?)

  4. Pembalut Wanita: Softex

  5. Pembalut luka: Tensoplast (penyebutan plester dari kata plaster justru lebih tepat dari pada penyebutan sebuah merek)

  6. Pasta gigi: Odol (merek pasta gigi terkenal era 1970-awal 1980)

  7. Semir sepatu: Kiwi

  8. Speaker: TOA, Salon

  9. Sabun Muka: Biore

  10. Pisau cukur/Razor: Gillete

  11. Korek gas: Tokai/Zippo

  12. Pengharum pakaian: Molto

  13. Sepatu olah raga: Kets

    (Kets ini sebenarnya merek atau.. ada yang bisa memberi saya info?)

  14. Bolam/bola lampu: DOP (dop adalah merek sebuah bola lampu)

  15. Sepeda motor: Honda (terutama di sebagian daerah Jawa Tengah, kalau di sebagian Jawa Timur mereka menyebut sepeda motor dengan “Suzuki”.)

  16. Scooter: Vespa

    (setiap kendaraan roda dua tipe scooter disebut Vespa. Tapi menjelang 2002 hingga sekarang, setelah muncul beberapa produk Scooter Matic, penyebutan Vespa untuk kendaraan jenis scooter mulai berkurang.)

  17. Mobil 4WD/four wheel drive: Jeep

    (Jeep adalah merek dagang mobil dengan keunggulan empat roda penggerak. Tapi sampai tahun 2003-an, pada STNK mobil Suzuki Katana teman saya masih tertulis ‘Tipe Kendaraan: Jeep’. POLRI saja masih keliru dalam penyebutan ini.)

  18. Toyota Land Cruiser : Jeep-Hard Top

    (Toyota mengeluarkan Land Cruiser pada akhir 1970 dengan dua tipe: Canvas dan Hard Top. Perbedaan keduanya terletak pada materi atau bahan atap mobil. Canvas: beratap kanvas/terpal kain yang bisa dibuka dengan cara digulung/dilipat. Hard Top: beratap keras atau utuh seperti mobil pada umumnya. Jadi penyebutan ‘Jeep Hard Top’ adalah dua kali kekeliruan, karena menyalahi penyebutan merek, dan lagi tidak semua Land Cruiser memiliki atap Hard Top.)

  19. Konvoi/iring-iringan kendaraan: Kampanye

    (Ini masih sering terjadi di daerah. Masyarakat menyebut iring-iringan kendaraan dengan kata kampanye. Kesalahan ini awalnya terjadi karena kebiasaan masyarakat –menjelang PEMILU– melakukan iring-iringan kendaraan menuju lokasi kampanye partai. Padahal kampanye berasal dari ‘campaign’ yang memiliki arti: kegiatan yang terstruktur untuk mencapai tujuan tertentu. Sedangkan konvoi berasal dari bahasa Inggris ‘convoy’, yang sebenarnya merupakan turunan dari bahasa Skotlandia yaitu ‘convey’ atau ‘conviare’. Con: together/bersama, Via: way/jalan).

  20. Trans Jakarta : Bus Way

    (Trans Jakarta adalah penyebutan armada bis di Jakarta yang memiliki jalur khusus yang disebut bus-way. Hal ini serupa dengan alat transportasi lain yang juga memiliki jalur khusus seperti rail-way dan sub-way. Rail-way: jalur/jalan kereta, sub-way: jalur bawah tanah, sub-way train: kereta bawah tanah. Jadi jelas penyebutan bus-way adalah jalurnya, bukan armadanya. Kalau kita menyebut armada Trans Jakarta dengan bus-way, maka akan muncul kalimat, “Kita naik busway”. Keliru bukan?)

  21. Pondokan/asrama: Kost

    (“Kost” adalah bentuk informal dari bahasa Belanda “kosthuis” yang artinya pondokan. Orang yang tinggal di dalam kosthuis disebut pemondok atau in de kost. Masyarakat menyelewengkan istilah pondokan menjadi kos-kosan atau yang lebih parah adalah indekosan.)

  22. Ruh (tunggal): Arwah

    (Kita sering mendengar ungkapan bela sungkawa untuk seorang yang meninggal dunia, “Semoga arwah beliau diterima di sisi-Nya”. Hal ini keliru, arwah adalah penyebutan untuk jumlah ruh lebih dari satu atau jamak. Untuk tunggal yang tepat adalah ruh, misalnya dalam kalimat, “Semoga ruhnya saudara A diterima..” atau “Semoga arwah mereka diterima..”)

Sementara baru itu yang bisa saya bagi. Mungkin anda punya yang lain atau bahkan mau mengoreksi yang telah disebut diatas..? silahkan ..

Comments»

1. bonnie2405 - Tuesday, March 25 , 2008

Soal apakah bahasa indonesia semakin memburuk karena pemakaian yang kurang tepat…wah tak berani saya mencoba jauh menganalisa karena memang diriku yang samasekali tidak ada latar belakang jadi pengamat bahasa. Kalau dipikir-pikir sebenarnya bahasa kita itu selalu berkembang terutama usaha untuk memperkaya kosa kata dengan unsur2 bahasa daerah. Dan rasa-rasanya tidak ke arah yg terlalu buruk kecuali tentunya Chinca Lowra diperbolehkan eksis nah itu dia tindakan kriminal.

Kalau kita melihat bahasa lain seperti bahasa belanda misalnya, ada banyak istilah2 yg tadinya slang dimasukkan menjadi bagian bahasa resmi karena pemakaiannya yg cenderung sering. Bahasa belanda sendiri banyak sekali ungkapan2 yg tidak terpakai lagi karena kaum mudanya cenderung bicara dengan bahasa yg lebih informal jadi mungkin sama saja tantangannya dengan bahasa kita..bagaimana cara supaya ungkapan2 yg indah tidak jadi sekedar bagian dari pelajaran bahasa indonesia saja.

Di Belanda siswa2 sekolah menengah atas yg dipersiapkan untuk masuk ke universitas harus membaca paling tidak 30 buku literatur berbahasa belanda dari berbagai generasi. Kemudian menganalisa sejauh mana perbedaan antar generasi atau sejauh mana relevansi isu-isu generasi lama ke masa sekarang. Secara tidak langsung banyak ungkapan2 lama di buku2 generasi sebelumnya yg terangkum di otak dan kemudian terpakai kembali. Lebih daripada itu paksaan membaca 30 buku ini jadi suatu cambuk buat calon2 intelektual ini untuk menghargai buku sebagai sumber ilmu yang hidup.

Ada satu hal yg rasanya perlu dipuji tentang bahasa kita. Setelah beberapa tahun tinggal di negeri orang kalau diamati lebih jauh bahasa kita ini termasuk bahasa yang emosional atau paling tidak mampu menangkap gejala emosi yang ada.

Pernah ada orang yg bilang pada saya bahwa susah sekali mengungkapkan rasa dengan bahasa kita. Terbatas dalam mengungkapkan kata…tapi waktu di Belanda saya sadar bahwa bahasa kita ternyata punya begitu banyak kosa kata yg tidak akan mudah dicari padanannya di bahasa lain. contoh kecil adalah kata GEMAS . Susah sekali menerjemahkan kata kecil penuh emosi itu ke suami yang notabene bukan dari indonesia.

Refanidea: aku pernah baca mba dian, gini:

1 / SMA Thailand Selatan / 5 judul / Narathiwat / 1986-1991
2 / SMA Malaysia / 6 judul / Kuala Kangsar / 1976-1980
3 / SMA Singapura / 6 judul / Stamford College / 1982-1983
4 / SMA Brunei Darussalam / 7 judul / SM Melayu I / 1966-1969
5 / SMA Rusia Sovyet / 12 judul / Uva / 1980-an
6 / SMA Kanada /13 judul / Canterbury / 1992-1994
7 / SMA Jepang /15 judul / Urawa / 1969-1972
8 / SMA Internasional, Swiss / 15 judul / Jenewa / 1991-1994
9 / SMA Jerman Barat / 22 judul / Wanne- Eickel / 1966-1975
10 / SMA Perancis / 30 judul / Pontoise / 1967-1970
11 / SMA Belanda / 30 judul / Middleburg / 1970-1973
12 / SMA Amerika Serikat / 32 judul / Forest Hills / 1987-1989

2. santizaidan - Friday, March 28 , 2008

setujuuuu…
bahasa indonesia kita memang carut marut..
bahasa melayu di malaysia amburadul..
tapi bahasa inggris orang indonesia juga payah mas.. kalo di bandingin ama orang India dan Malaysia, we are left behind.. padahal bahasa inggris itu penting sekali..
umm personal thought si itu..
btw, kalo masalah pengeneralisasian penyebutan Softex, Biore, Aqua.. menurutku si itu lebih karena efect brand postioning yang dahsyat dari sebuah product.. jaman dulu banget pula, mungkin ga banyak brand yang berdedar di masyarakat kita.. jadi ya product2 yang udah disebutin mas ifan itu lah yang sukses mempositioningkan brandnya di masyarakat kita.. Sampe ahirnya, kejadian deh.. Pak tumbas Baygon dan ternyata yang dikasihin Tiga Roda.

*sok tau abis mode ON (nah, iniiii baru cidera nya bahasa indonesia.. hahaha)

3. meikahazim - Friday, March 28 , 2008

hm…menarik… setujuh ama santi… kasus aqua, softex, dll aku bilang, itulah hebatnya brand. Brand itu kan posisinya di mindset. Jadi kalo orang bilang mau beli aqua tapi disodorin bukan aqua tetep mau… hebatnya aqua bisa mengganti mindset orang bahwa air mineral itu aqua. Berarti aqua bener-bener berhasil memasuki mindset orang! bahkan mengendap yang menjadikan berubahnya istilah air mineral=aqua.

Sementara brand yang tidak berhasil mengendap di mindset, ya dia tidak akan mempunyai kekuatan sampai merubah kosakata orang-orang… dan brand2 yang begini neh… ga sampe ngendap duh duh duh…pasti kelimpungan untuk tetep promosi dan berusaha memenangkan mindset orang-orang…

**sok nginget pelajaran marketing… hehehe…**

4. meikahazim - Friday, March 28 , 2008

Oh iya… jadi judulnya,
bahasa yang cidera? ato brand yang cidera??? ;)

5. Andriy - Saturday, June 20 , 2009

@TS:
seingat saya kalau tidak salah itu istilahnya kontraksi bahasa atau apalah (duh, buku catetan saya tertimbun di mana nih???!)
yang pasti (menurut saya) menuju ke arah pemiskinan bahasa Indonesia kalau dibiarkan begitu saja.
untuk Mbak Santi dan Mbak Meika:
Anda berdua benar, jika kita berbicara tentang masalah/bidang pemasaran ^_^
jadi, bukan karena bahasa yang cidera (apalagi brand), namun lebih pada kembali ke diri kita masing-masing.
karena … bahasa adalah Cermin Bangsa

CMIIW ^_^