Nothing’s Wrong With Him, Nothing’s Wrong With Love Monday, October 5 , 2009
Posted by refanidea in Cerpen.trackback
Aku duduk sila di atas hamparan pasir di tepi pantai. Memetik gitar, menyanyikan lagu-lagu Slank, Mr. Big, dan Bonjovi. Jam 1 pagi. Sementara teman-teman asik mengobrol, bercanda melingkari api unggun jauh di sebelah sana. Aku sedang ingin menikmati udara pantai sendirian sambil menatap ombak yang bergulung-gulung menepi. Seiring purnama malam ini, air laut meninggi hingga membasahi hingga mata kaki.
Langit benar-benar bersih. Ribuan bintang berkelip-kelip. Kadang-kadang terlihat olehku cahaya panjang bergerak perlahan menjauh dari kumpulannya. Bintang jatuh.
Tiba-tiba seorang lelaki berjalan menuju arahku. Ia berhenti lalu jongkok hanya beberapa langkah di sebelah kananku. Bercelana pendek dan kaos kerah ia asik menghisap rokoknya memandangi ombak. Merasa agak kaku kalau tidak berbasa-basi akhirnya aku menghentikan bermain gitar dan menyapanya.
“Sendirian mas?”
Ia berpaling ke arahku, “eh, iya.. masnya sendirian juga?”
“Nggak, tuh temen-temen saya yang pada ngelilingin api unggun.”
Lelaki itu menengok ke arah teman-temanku, “oh, itu yang disana?”
“Iya mas.”
“Temen-temen kuliah ya?”
“Iya.”
“Eh, kita ngobrol jauh bener ya. Saya kesitu boleh ya?”
“Oh, silakan. Saya nggak nggigit kok.”
“Hahaha..” ia tertawa sambil berdiri lalu duduk mendekatiku, “kuliah tahun ke berapa?”
“Sekarang masuk tahun kedua.”
“Oh.. Asli jogja?”
“Saya gede dan tumbuh di Jogja. Anggap aja orang Jogja lah mas.”
“Saya sering ke Jogja lho.. tapi baru tahu kalau ada pantai ini.”
“Oh gitu. Emang mas dari mana?”
“Saya luar kota,” jawabnya.
“Suka ke pantai ya mas?”
“Suka banget.. Saya dari Bali mas.”
“Oh, Baliii.. wah pantai Jogja mana ada yang sebagus Bali?”
“Iya sih, tapi..setiap pantai punya keunikan sendiri mas.”
“Oya?! Apa misalnya mas?”
“Ya.. nuansanya, ombaknya, pasirnya, penduduk sekitar, orang-orang yang kita temui dipantai. Beda-beda. Masing-masing memberi pengalaman yang berbeda yang nggak terlupakan.”
“Hmm.. gitu ya mas?”
“Iya. Saya udah dua minggu muterin pantai Jawa.”
“Hah?! Dua minggu.. yang bener mas?”
“Serius.. saya start dari Anyer, terus ke timur.. Pelabuhan Ratu.. Pangandaran.. Kalau pantai barat Jogja itu bagus juga ya, tapi pasirnya hitam dan agak lebih curam bibir pantainya. Apa namanya?”
“Pantai Glagah mas.”
“Iya.. Glagah.”
“Glagah perkasa!!”
“Hahaha.. Orang Jogja tuh khas plesetan ya.”
“Hehe.. Wah, kalau saya punya waktu banyak kayak masnya, saya sih mau aja muterin pantai se-Jawa. Jangankan seluruh pulau Jawa mas, pantai sedunia juga saya mau puterin. Hehe..”
“Kalau Pangandaran malah baru dua minggu yang lalu saya tahu. Penduduk sekitar bilang, setelah tsunami pengunjungnya agak berkurang.”
“Oh gitu..”
“Iya. Kalau Anyer saya malah sering ke sana, karena kakak saya tinggal di Banten.”
Aku menyodorkan tangan, “Aku Baskara, mas..”
“Oh, aku Agung..”
“Mas Agung ini lagi kerja atau liburan? Kan ada juga tuh profesi yang tugasnya jalan-jalan.”
“Hahaha.. Emang ada ya, profesi jalan-jalan?” tanyanya.
“Ada dong. Wartawan, reporter, trus penulis novel, kan kerjaannya jalan-jalan buat ngumpulin berita, bahan tulisan, foto, atau sekedar mencari inspirasi.”
“Oh iya, bener juga yah.”
“Jangan-jangan, mas kerja di bidang kayak gitu?”
“Oh, enggak mas Baskara, saya lagi liburan kok.”
“Waduh, panjang betul mas liburnya? Kan mas Agung tadi bilang udah dua minggu muterin pantai-pantai Jawa. Enak banget kerjaannya bisa ditinggalin selama itu. Kerjaan, di Bali juga mas?”
“Iya, saya punya usaha sendiri.”
“Oh, asik ya bisa libur sesuka hati, hehe.. Oya mas, panggil saya Baskara aja. Enggak usah pakai ‘mas’. Temen-temen biasa panggil saya ‘Bas’.”
“Emm.. Okay Bas, panggil aku juga ‘Agung’ aja.”
“Jangan gitu dong mas, mas kan lebih tua dari aku.”
“Ya.. terserah kamu lah Bas. Eh, lanjutin dong maen gitarnya..”
“Dibayar berapa nih satu lagu? Hahaha..”
“Per lagunya gopek mau? Hahaha..” ia tertawa, “eh, aku pinjem gitarnya sebentar boleh kan?”
“Pakai aja mas,” kuserahkan gitarku padanya.
“Kamu suka lagu apa Bas..? Tadi itu yang kamu nyanyiin lagunya Bon Jovi yah?”
“Iya mas..”
“Apa judulnya Bas, lupa aku. Emm.. Bed of Roses ya?”
“Bener..!”
“Aku udah lama nggak maen gitar.”
“Oya, berapa lama?”
“Dulu waktu masih kuliah kayak kamu sih sering. Aku dulu suka bawain lagu-lagunya Ebit, Crhisye, Iwan Fals.”
“Wah, jadi inget om-ku mas. Dia suka maenin lagu-lagunya Ebit.”
“Om kamu usia berapa sekarang?”
“Sekitar empat puluhan mungkin. Kalau mas Agung berapa?”
“Aku tiga tujuh tahun ini.”
Dia mulai memetik gitar dan menyanyikan lagu Ebit, “Kupu-kupu Kertas”. Aku diam menatap pantai sambil sesekali memandang teman-teman yang sedang asik bercanda dan menenggak beberapa botol disana.
Selesai satu lagu ia lalu merogoh saku celananya. Mengambil rokok, dan menaruhnya diatas pasir. “Gitu deh Ebit.. Liriknya sederhana tapi dalem..”
“Hehe.. Iya. Mas usaha apa di Bali?”
“Saya punya usaha body care.”
“Perawatan tubuh?”
“Iya. Spa, meni-pedi, lulur, massage. Ada beberapa unit bisnis sih sebenernya. Aku punya empat tempat. Di Nusa Dua, Legian, Kuta, ama Sanur. Kebetulan lagi jenuh ama kerjaan jadi saya iseng aja jalan-jalan. Lagian saya punya kenangan sendiri sama Jogja. Lagi pengen mengenang nih.”
“Gitu ya?”
“Iya.. Jogja tuh unik.”
“Bener mas. Orang yang punya kenangan ama Jogja, kalau punya waktu luang bakal balik ke sini buat sekedar mengingat kenangan itu.”
“Kamu punya pacar Bas?”
“Ada mas.”
“Kok nggak diajak?”
“Wah, nggak mas. Ini kan acaranya cowok-cowok. Kami baru aja kelar ujian akhir mas, jadi pengen ngelepasin penat.”
“Oh, abis ujian ya. Emm.. Tadi sore disini gerimis lho. Tapi sekarang langitnya terang banget,” ia menghembuskan asap keatas.
“Lho, mas dari tadi sore disini?”
“Udah dua hari ini aku disini. Tuh, nginep di hotel yang itu,” ia menunjuk ke sebuah bangunan hotel yang teramat sederhana, “kalian entar nginep sini ato pulang pagi-pagi?”
“Pulangnya besok pagi mas, jam sembilan lah paling. Eh, emang orang kayak mas mau nginep di hotel kayak gitu? Kan disini enggak ada listrik. Apalagi sinyal handphone.”
“Justru itu yang aku cari. Ketenangan.. Makanya handphone juga aku matiin, kutinggal di hotel.”
“Gitu ya.. Eh, mas pulang kapan?”
“Aku paling sehari lagi disini, trus mau ke kota buat belanja pernak-pernik ama batik di Malioboro. Trus pengen juga maen ke pasar Beringharjo nyari apaan kek yang seru buat oleh-oleh temen di Bali.”
“Wah, asik banget ya punya bisnis bisa ditinggal-tinggal gitu. Emm.. mas udah merit?”
“Yaa.. Kalau orang kayak aku ini mau merit juga gimana ya..?”
“Lho kok gimana? Gimana.. Bagaimana mas? Hehe..”
Dia tiba-tiba terdiam. Mengambil bungkus rokok putih dari saku celananya lalu membakar sebatang.
“Rokok Bas..” ia menawarkan rokoknya.
“Iya, aku ada kok mas,” aku membakar rokok juga. Kulirik wajahnya sambil menunggu jawabannya tentang menikah tadi. Ia menatap kosong ke depan lalu menghembuskan asap ke bawah dari bibirnya. Aku memalingkan pandangan ke arah lain sambil berpikir, jangan-jangan aku salah ngomong tadi? Kok dia jadi diam begitu.
“Mas, sori aku nggak paham. Tanya lagi deh, kenapa belum merit?”
“Hahaha.. Gini Bas.. Dulu.. Dua tahun yang lalu, waktu itu aku masih punya pacar di Jogja.”
“Oh.. Biar kutebak! Jadi pacar mas itu yang jadi kenangan tentang Jogja?”
“Salah satunya. Dulu aku bela-belain selama lima tahun bolak-balik Jogja-Bali cuma buat melepas kangen ama pacarku. Kadang sebulan sekali, kadang dua bulan sekali.”
“Wah, perjuangan banget mas.”
“Iya.. Kadang-kadang juga pacarku yang maen ke Bali.”
“Pacar mas Agung waktu itu kerja di Jogja?”
“Dia kuliah di Jogja, aku kerja di Bali.”
“Kami kenalan waktu dia liburan ke Bali bareng temen-temen kuliahnya.”
“Oh, gitu.. Sekarang dia masih di Jogja?”
“Dia masih di Jogja sekarang. Kerja, dan udah kawin.”
“Mas kenapa nggak temuin dia untuk sekedar say hello, atau mungkin pengen tahu kabar dia?”
“Itu masa lalu. Lebih baik aku nggak ketemu dia lagi.”
“Lho.. Emang kenapa mas?”, tanyaku menyelidik.
“Emm.. gimana ya..?”
“Oh, nggak harus dijawab kok mas. Potongku segera. Sori, siapa tahu entar malah jadi inget yang nggak enak kalau dibahas.”
“Hmm.. nggak apa-apa kok Bas. Gini.. dulu kami pacaran selama 5 tahun. Ya selama itu juga aku bolak balik Jogja-Bali. Dia berasal dari keluarga yang kurang mampu, jadi aku bantu biaya kuliah dia selama 4 tahun sampai dia lulus.”
“Okey.. Trus?”
“Ya.. mulai biaya kuliah, makan dia sehari-hari, semuanya Bas. Aku support dia sepenuhnya. Uang dari ortunya aku suruh buat ditabung aja. Waktu itu aku masih ngebangun usahaku dari kecil, belum sebesar sekarang.”
“Apa karna support mas Agung yang sangat besar termasuk dari segi finansial, dan pada akhirnya nggak jadi merit ama dia, lalu itu semua membuat mas sekarang nggak pengen ketemu dia lagi? Eh, tapi sori lho mas kalau pertanyaanku terlalu personal untuk kategori orang yang baru aja mas kenal.”
“Oh, nggak apa-apa. Santai aja.. sama sekali nggak masalah kok. Aku orangnya terbuka kok Bas.. Oya, soal pertanyaanmu tadi, aku ihklas kok. Aku sayang banget sama dia Bas. Aku bahagia ngeliat dia akhirnya bisa lulus kuliah, bisa dapet kerjaan, dan akhirnya merit dengan orang yang dia sayangi meski orang itu bukan aku.”
“Lho, bukankah dengan kebesaran hati seperti itu mestinya hubungan mas dengan dia bisa menjadi tetap baik sekarang. Jadi, nggak ada masalah dong buat ketemu lagi?”
“Gini Bas.. selama lima tahun berhubungan ama dia, aku udah kenal keluarganya dengan baik. Orang tuanya juga baik banget sama aku. Bahkan aku bilang sama dia supaya jangan bilang ke ortunya kalau aku yang biayain segala hal yang dia butuhin di Jogja selama dia kuliah. Ortunya juga enggak tahu kalau aku pacaran ama dia. Dia enggak pernah berani bilang kalau aku ini pacarnya.”
“Oh, gitu. Memangnya ortu mas Agung juga udah kenal ama dia?”
“Orang tuaku nggak pernah setuju aku menjalin hubungan dengan dia.”
“Lho, kenapa?”, aku mengerutkan alis dan menatapnya dengan sungguh-sungguh,”tunggu mas, kayaknya ada bagian yang aku nggak mengerti dari cerita mas Agung sampai sejauh ini.”
“Hehe.. tenang Bas. Jadi kamu belum paham dari tadi?”
“Bukan gitu mas. Aku paham. Tapi seperti ada sesuatu yang aku nggak ngerti, di mananya ya mas?”
“Gini Bas, orangtuaku tahu bahwa sejak kecil aku lain dari yang lain. Itulah makanya orang tuaku enggak setuju aku pacaran ama dia waktu itu. Padahal dia itu cinta sejatiku banget. Sampai sekarang aku masih belum bisa lupain dia. Emm.. sebenarnya dia sadar banget bahwa hubungan kami nggak mungkin diterusin. Tapi dia nggak enak banget sama aku, karna dia ngerasa banyak utang budi sama aku. Dia bilang, akulah yang membuat dia bisa melangkah sejauh ini, ngebiayain kuliah dia sampai lulus, segala-galannya sampai dia bisa kerja dan punya penghasilan sendiri. Tapi akhirnya suatu hari.. dia memberanikan diri bilang ke aku untuk memilih jalannya sendiri, dan memutuskan untuk berpisah. Nggak lama setelah kami pisah, dia menikahi seorang wanita.”
Aku diam. Kaget. Paham. Buru-buru membakar rokok lagi. Hisap.. Hembus.. Kutatap riak ombak yang bergulung menderu. Bulir-bulir air laut terpecah pencar berkilauan terbias purnama.
Dia melanjutkan lagi, “kenapa Bas.. kamu kaget?”
“Eh.. oh, nggak mas, nggak kok,” bagaimanapun bahasa tubuhku terlalu jelas menampakkan kekagetan.
“Huff..”, ia menghembuskan nafas dengan berat.,”well.. itu karena sebenarnya dia lelaki normal, bukan seperti aku yang mencintai dia.”
Aku merasa bersalah sekali, karena mungkin pertanyaan-pertanyaanku terlalu memancing, dan membuatnya sejenak kembali mengenang masa lalunya yang mungkin tidak bisa diceritakan ke sembarang orang.
“Perlu kamu tau Bas, waktu dia merit, aku yang biayain semuanya,” ia melanjutkan ceritanya tanpa aku minta. Aku sudah terlalu merasa bersalah hingga membuatnya jujur mengungkapkan siapa dirinya. Ah, tapi sudah terlanjur. Toh, kalau dia memang tidak mau bercerita tentu dia sudah diam dari tadi. Dan sekarang mungkin ia justru merasa dihargai kalau aku mau mendengarkan ceritanya.
“Biayain semuanya gimana maksud mas?”
“Ya semuanya. Gedungnya, kateringnya, baju-bajunya, semuanya. Itu semua aku lakukan selain karna orang tua dari pihak wanita kurang mampu, juga karena aku ingin melakukan sesuatu yang berarti untuk terakhir kalinya buat dia. Setelah pesta pernikahannya selesai, sebagai rasa terima kasihnya padaku dia bersedia menemani aku satu malam. Malam terakhir.. sebagai tanda perpisahan. Malam terakhirnya denganku, adalah malam sebelum malam pertamanya dengan istrinya. Tapi sekarang.. aku hanya ingin dia bahagia. Aku tidak ingin mengganggu rumah tangganya. Semoga dia bahagia saat ini.”
Pagi buta itu dia kembali ke hotel. Sebelumnya kutawarkan mas Agung untuk sarapan bareng jam tujuh pagi di pinggir pantai bareng teman-teman, dan dia mengiyakan. Aku bergabung lagi dengan teman-teman, tidur di tikar deket api unggun.
***
Jam tujuh pagi dia sudah duduk lagi di pinggir pantai. Dia bilang sudah sarapan di hotel. Aku dan temen-temen masih memasak mie instant dan menggoreng nugget untuk sarapan. Sempat kukenalkan mas Agung pada teman-temanku.
Setelah selesai sarapan teman-teman masih ingin bermain bola di pinggir pantai dan berenang. Kusempatkan ngobrol lagi dengan mas Agung beberapa saat sambil minum kopi di warung kecil yang menghadap ke pantai. Kami berbicara tentang bisnisnya di Bali. Termasuk cerita tentang pekerjaannya dulu ketika menjadi broker gigolo. Ternyata paling banyak customernya cewek-cewek Jepang. Kata mas Agung cewek Jepang doyan banget sama laki-laki Indonesia. Aku tertawa saat dia menceritakan salah seorang customer-nya yang komplain karena gigolonya cepat menyerah saat melayaninya.
***
Jam setengah sepuluh pagi teman-teman mengajak packing untuk pulang. Aku membantu mengemasi kompor, tabung gas kecil, tikar, gitar dan sleeping bag ke atas pick-up Edo. Selain Edo dan Bonang, kami bersepuluh berboncengan dengan lima motor.
Setelah semua beres, kukenakan jaket kulit, helm, sepatu boot, dan sarung tangan. Kunyalakan motorku untuk memanaskan mesinnya. Selagi menunggu mesin panas, aku mendekati mas Agung.
“Sampai ketemu lagi mas Agung. Makasih buat sharing ceritanya.”
“Thank you Bas, sama-sama,” dia tersenyum, “maen-maenlah ke Bali.”
“Oke mas. Nanti kalau aku ke Bali kita ketemu lagi.” Balasku.
Dia membuka dompet dan memberikan kartu namanya.,”ini buat kamu. Just call me!” Aku tahu ia serius mengatakan itu. Bukan basa-basi.
“Oke mas.. I’ll keep it,” aku memasukkan bussines card-nya ke dompetku.
Langit biru cerah tanpa awan. Matahari pagi bersinar hangat. Angin pantai bertiup mendorong air ke tepian membasahi pasir. Ombak bergulung-gulung. Suaranya menderu seolah meminta perhatianku untuk menatapnya. Kupalingkan wajah sesaat untuk menyaksikan pantai kecil yang indah sebelum pulang. Cakrawala membentang mengesankan garis panjang tak berbatas. Mas Agung menatap mukaku yang sedang takjub akan indahnya alam.
“Kenapa Bas?”, tanyanya.
“Emm.. mas lihat deh jauh ke sana, garis itu..”, aku menunjuk garis maya yang panjang membentang. Dia menatap jauh kesana. Mengerutkan alisnya mencari tahu apa maksudku. Kedua tangannya ia silangkan di depan dada.
“Kenapa memangnya Bas?”, dia berpaling menatap mukaku.
“Lihat mas,” dia memandang lagi ke sana, “mas tahu bagaimana langit termegah bertemu laut terindah..? Karena cakrawala Tuhan. Begitu juga cinta mas, selalu akan dapat bersatu oleh sebuah alasan jika Tuhan memang menghendaki. Moga-moga mas Agung mendapatkan cinta yang bener-bener indah suatu hari nanti.”
Dia tersenyum lebar lalu menatapku lagi, “hmm.. Yaa.. Kamu benar, Bas.”
Aku mengangkat alis sambil tersenyum, “aku harap suatu hari kita ketemu lagi di Bali. Sampai ketemu mas, thanks..”
“Sama-sama Baskara..”, ia menjulurkan tangannya. Kujabat tangannya sambil menepuk lengan kanannya.
Kukenakan bandana hitamku untuk menutup muka. Akhirnya kulambaikan tangan pada mas Agung. Diatas motor.. kuinjak gear, melepas kopling, tancap gas menuju peradaban kota. Let’s back to reality..


“Lihat mas,” dia memandang lagi ke sana, “mas tahu bagaimana langit termegah bertemu laut terindah..? Karena cakrawala Tuhan. Begitu juga cinta mas, selalu akan dapat bersatu oleh sebuah alasan jika Tuhan memang menghendaki. Moga-moga mas Agung mendapatkan cinta yang bener-bener indah suatu hari nanti.” –> beautiful words..
Smoga semua org bisa menemukan cinta indahnya suatu hari nanti.. Amin..
berkunjung