jump to navigation

Sunday Morning Sunday, January 25 , 2009

Posted by refanidea in Uncategorized.
trackback

Pukul 03pagi hiruk pikuk.

Tidak hanya hari ini, setiap hari, setiap pagi. Salah siapa kalau baru hari ini aku sadar. Sepeda motor bermesin 2 tak buatan jepang tahun 80an (ciri-ciri: asap putih mengepul tebal, kolaborasi antara hasil pengapian yang tidak sempurna dan oli samping yang habis di ruang bakar, suara menggerung mirip kumbang terbang). Motor berkapasitas maksimum 2 orang dipaksa overload. Sebelah kanan kiri diletakkan dua kotak kayu besar diikat di badan motor, memuat puluhan macam sayuran segar dari desa. Disusun menumpuk tinggi memenuhi jok motor hingga ibu itu harus membonceng motor dengan menduduki sayuran dagangannya sendiri sebagai jok. Otomatis posisi duduknya nangkring cukup tinggi untuk menatap jalanan minggu pagi buta melebihi kepala pengendara yang suaminya sendiri yang sedang dengan hati-hati penuh keseimbangan memarkir kuda besi bersejarah itu di depan pasar.

Dekat dari situ perempatan kota. Belok kanan, lampu-lampu jalan yang terang menyorot wajah-wajah muda bubaran dugem. Ramai berkumpul di tepi jalan tertawa riang. Mobil-mobil fasilitas dari orang tua. Ada yang dibangun tambah fiber sana sini jadi lebih mirip robot daripada kendaraan roda empat. Hmm.. Keracunan T’okyo Drift’ atau ‘Too Tast Too Furious’.

Lalu..
rombongan klub-klub motor melewati jalan yang sama, tak ingin ketinggalan unjuk gengsi minggu pagi. Mengangkat roda depan, melaju kencang lalu berhenti tiba-tiba mengerem roda depan dengan roda belakang terangkat. Setelah ‘penonton’ riuh bertepuk tangan lalu mereka melaju lagi meninggalkan ‘pentas’ dan berputar keliling kota yang mereka sebut rolling thunder.

Ya.. itu
minggu pagi, atau tepatnya minggu dini hari. Satu atau dua jam sebelum adzan subuh, atau sedikit lebih pagi dari jadwal lari pagi, senam pagi, dan ramainya orang-orang mengajak keluarga untuk refreshing sekedar menyantap bubur ayam, soto, atau lontong opor sambil menghirup hawa pagi setelah berolah raga.

Pukul 11 siang..

Mereka yang sejak pagi buta mengangkut sayur, masih berkutat di pasar sambil berkemas untuk pulang dan menghitung untung.

Mereka yang pagi buta pulang dari hingar-bingar musik malam dan meneruskan beraksi dijalanan sekarang terkapar di kamar kelelahan begadang.

Mereka yang bangun pagi lalu berangkat untuk olah raga, kini sedang santai
dirumah sambil merencanakan untuk ke pergi ke pantai atau jalan ke mal sore nanti. Atau bahkan ingin tidur siang.

***

Minggu pagi
memang panjang. Karna minggu pagi sering disebut sabtu malam atau malam minggu. Minggu pagi juga aneh, bisa dimulai pukul 24.00wib atau saat ibu membangunkan anaknya, “Bangun nak, sudah pagi, subuh dulu nak..” , atau jam 6 pagi saat mengikat tali sepatu untuk berangkat olah raga. Semuanya minggu pagi. Tidak ada yang salah..

Tapi sebuah minggu pagiku adalah minggu pagi paling indah. Setelah minggu pagi jam 24wib sampai jam 04wib begadang bertemu teman lama, tertawa lepas, minum kopi, banyak merokok, dan praktis tidak tidur. Minggu pagi jam 8wib aku antar ibu ke pasar. Ibu kenceng banget jalannya. Aku jadi ketinggalan karna kagum dengan suasana pasar yang sudah lama tak kurasakan. Beli cabe, beli ikan lele, beli sayur, beli daging, beli dawet, beli jajan pasar, beli pete untuk lalapan makan siang. Asik!!

Langit cerah, matahari sedang bersemangat.. Hangatnya terasa nyaman menembus kaos hitamku yang belum ganti dari semalam tapi aman karna kusemprot banyak cologne. Mukaku rasanya tebal meski sudah kubasuh biore foam. Mata juga ngegantung kayak digelendotin malaikat surga. Tapi semangat untuk berdesak-desakan dipasar memang mengalahkan rasa lelah begadang semalam. Lama juga ternyata nggak masuk pasar. Semangat bakul pasar  menyodorkan dagangan, semangat ibu-ibu menawar harga, suara pisau daging memotong paha ayam, suara air kran menyemprot perut-perut ikan, suara mesin parut kelapa, suara hingar-bingar yang secara tak sadar ternyata aku rindukan (yang terlalu lama tidak kudengar karna lama dijakarta, secara di jakarta aku nggak pernah ke pasar. Untung aku resign dari kerjaan di Jakarta, hehe..) Sebuah melodi yang unik. Melodi pasar..

Aku teringat pada seorang ibu yang nangkring diatas motor 80an membawa sayur tadi, minggu jam tiga pagi. Tapi aku tak bertemu dengannya di pasar. Mungkin dia tertutupi ramainya orang berdiri menawar. Mungkin dia sibuk berdagang. Pastinya dia akan kembali senin jam tiga pagi. Disaat aku meringkuk tidur menunggu pagi jam 8 untuk mengirimkan lagi lamaran.

Hmm.. minggu pagi yang menyenangkan!! :)

Jogja, 2007, menganggur..

Comments»

1. anginbiru - Saturday, January 31 , 2009

kenapa ya begitu denger Sunday Morning asosiasinya selalu mengarah ke Pasar Dadakan di Boulevard UGM….?!! huehehe,,