jump to navigation

Resleting, eh riting.. Wednesday, October 1 , 2008

Posted by refanidea in jangan pernah sakit hati.
Tags:
trackback

Sore itu aku melintas kencang di tengah kota. Tidak cukup pelan memang, 80 km/jam . Aku sedang buru-buru.

Di sebuah jalan yang cukup padat, tepatnya di depan pom bensin, di depan kulihat seorang bapak naik motor dari arah yang sama denganku. Posisinya benar-benar di tengah lajur kiri. Gas motor tak kuturunkan sedikitpun. Kuputuskan mendahuluinya dari sisi kiri. Tiba-tiba bapak itu belok kiri tanpa aba-aba, tanpa melihat ke belakang, seolah jalan itu dibikin dan dibiayai 100% oleh kakek moyangnya. Aku menekan rem depan dengan kuat. Ngik..! Untungnya motorku berhenti, tepat di samping kirinya, dan tak jadi menabrak.

Dalam bahasa Jawa yang tak baku dan entah turunan dari bahasa apa, “riting” berarti “sign” atau memberi tanda jika mau membelokkan kendaraan. Atas dasar perbendaharaan bahasa yang kumiliki itu, maka kugunakan kata “riting”, dan keluarlah teriakan keras nan kesal dari bibirku, “woy.. pak! riting!”

Bapak itu tiba-tiba berhenti dan segera melihat ke arah bawah pusar. Ia buru-buru membenarkan risleting celananya, lalu berteriak ke arahku, “makasih mas!”

Tuhaaan.. maksudku riting pak, bukan risleting..

Pak, setidaknya ada tiga pertanyaan yang akan kuajukan untukmu :

1. kenapa kejadian ini begitu pas, dalam arti.. kenapa kebetulan sekali anda belum membenarkan risleting celana..?

2. lagipula, bagaimana aku bisa tahu bahwa risleting celanamu belum terpasang pak, bukankah kita dari arah yang sama..?

3. aku sedang ngebut terburu-buru, untuk apa aku terlalu perhatian pada celanamu..?

Saudara-saudaraku, berdasarkan kejadian ini aku hendak bertanya pada anda..

1. apakah ada kata pengganti untuk “riting” selain “sein” atau “sign” yang mudah dimengerti oleh orang Jawa..?

2. baiklah bila ngebut di jalanan tengah kota seperti yang kulakukan itu keliru. Tapi cobalah anda lakukan hal yang sama sambil memperhatikan risleting-risleting pengemudi sepeda motor. Barangkali ada satu diantara mereka yang risletingnya belum terpasang. Kalau anda berhasil, tolong kasih tahu saya. Ini penting!

Comments»

1. bonnie2405 - Wednesday, October 1 , 2008

Riting—-kayaknya dari kata belanda “richting” yg artinya arah. Hemm kalo gw sih biasaya teriak2 bilang Kasih SEN dong!!!

@sen–sign(?)@

Ifan: ouw.. untung lo dateng kemari mba dian. emm.. orang2 tua jaman dulu juga lebih suka menyebut “dilarang masuk” dengan “verbodden”.

Di Jogja ada kretek Kewek, deket Gereja daerah Kotabaru.. Katanya “kewek” itu berasal dari bahasa Belanda, yang artinya “jalan ke ke gereja”. Jadi apa bahasa belandanya, “jalan menuju gereja?” mbak Dian..?

Oh, pas lo ke jogja itu mbak, gue tanya ama mertua lo, ternyata cara ngebaca “Vrederburg” adalah “vreiden-bergh..” ahh.. angel tenan!

Oh, harusnya gue bilang ke orang itu, “richting, godverdomme!!” Hahaha…

2. Desta - Thursday, October 2 , 2008

Riting tresno jalaran seko kulino.

Hehehe, kok ndak ikut berhenti juga om. Trus bilang sama bapaknya ” Saya bantu benerin retsletingya pak ?” Huakakaka.

Mungkin naluri cinta sesama jenis sudah mulai berkembang. *langsung nyelah motor trus ngebut*

3. emyou - Thursday, October 9 , 2008

akur ama Desta

*lari menyelamatkan diri*

Ifan: Desta, Oelpha, kalian durhaka..!

4. Hajier - Wednesday, November 19 , 2008

Pak tua aja hampir mampus gara2 gak tahu ‘riting’..

Nah, aku aja yang sudah mengerti kegunaan ‘riting’ dengan baik, malah hampir jadi korban tabrakan.

Apes mana?

Secara SIM-nya gak pake jalur resmi sehhhh :)

5. Laras Sekar - Monday, December 1 , 2008

eh eh .. rambutku sekarang ‘riting’ lhoo ..
[apaan sih ras ..]

wii..
kalo aku malah kasian ma tu bapak ..
kan gawat kalo “sangkar”nya kebuka

6. Muhammad Iqbal - Friday, December 19 , 2008

harusnya mas Ifan bilang, “woii.. retsleting pak!”
pasti dia langsung liat panel depan. hehe

ifan: lah, ntar dia malah nyalain lampu sign. haha.. ruwet!

7. Bayu Probo - Wednesday, July 1 , 2009

ha ha ha